Bukan Gencatan Senjata, Ini yang Diinginkan Iran
Iran Tidak Menginginkan Gencatan Senjata, Tapi Penghentian Perang Total
Istanbul - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan gencatan senjata, tetapi penghentian perang secara total serta jaminan bebas dari serangan di masa depan dan kompensasi. Ia menyatakan bahwa kontak dengan Amerika Serikat bukanlah negosiasi, melainkan pertukaran pesan, baik secara langsung maupun lewat perantara di kawasan.
Menurut Araghchi, Iran terus menerima pesan dari utusan AS, Steve Witkoff, tetapi menegaskan bahwa hal itu tidak boleh diartikan sebagai negosiasi formal. Pesan-pesan tersebut disampaikan melalui kementerian luar negeri, termasuk komunikasi terbatas di antara badan keamanan, tanpa adanya pembicaraan dengan pihak tertentu di dalam negeri.
Iran menolak usulan Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata selama 48 jam, menurut laporan kantor berita semiresmi Fars. Proposal tersebut disampaikan kepada pihak Iran melalui negara "sahabat" pada Kamis, demikian dikutip Fars dari sumber yang mengetahui hal itu.
Sumber tersebut menyampaikan bahwa Washington telah meningkatkan upaya diplomatiknya untuk mengamankan gencatan senjata, khususnya setelah serangan Iran menyasar "depot pasukan militer" AS di Pulau Bubiyan, Kuwait. Menurut Fars, penilaian mengindikasikan bahwa proposal tersebut diajukan menyusul meningkatnya krisis di kawasan itu dan "masalah serius" bagi pasukan AS yang disebabkan oleh "kesalahan perhitungan" AS mengenai kemampuan militer Iran.
Laporan itu menyampaikan bahwa respons Iran terhadap usulan AS tersebut tidak diberikan secara tertulis, tetapi melalui kelanjutan serangan di medan perang. Pada 28 Februari, Israel dan AS memulai serangan gabungan ke Teheran dan beberapa kota lainnya di Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah. Pewarta Xinhua melaporkan bahwa Iran dilaporkan mengabaikan usulan gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Washington pada 2 April mengajukan gencatan senjata melalui salah satu negara sahabat, menurut laporan Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, pada Jumat dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut. Namun, Iran tidak memberikan respons tertulis atas pengajuan gencatan senjata tersebut. Sebaliknya, Teheran disebut merespons "di lapangan" dengan melanjutkan serangan intensitas tinggi.
Dalam keseluruhan, Iran tidak menginginkan gencatan senjata, tetapi penghentian perang secara total serta jaminan bebas dari serangan di masa depan dan kompensasi. Pihak Iran menolak usulan Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata selama 48 jam dan terus melanjutkan serangan di medan perang.